PROSES MENUA

Menjadi tua adalah bagian dari proses kehidupan yang tidak dapat dihindari oleh siapapun. Beberapa perubahan akan terjadi pada seseorang yang sedang mengalami proses menua baik secara penampilan fisik maupun kondisi psikososial, kognitif dan emosional. Sebagai contoh: lansia akan mengalami penurunan kekuatan otot dan keseimbangan, kemampuan memori menurun, perubahan pada warna rambut ataupun tekstur kulit.

Dalam proses menua, seorang lansia umumnya diperhadapkan dengan masalah kesehatan baik yang mempengaruhi fungsi fisiologis ataupun penyakit kronis. Stanley dan Beare (2007) menyatakan bahwa seiring dengan bertambahnya usia, insiden terjadinya penyakit kronis pada lansia juga akan bertambah. Walaupun demikian, proses menua tidak bisa dinilai sebagai hal negatif yang terjadi pada seseorang.

Definisi

Constantides (1994 dalam Boedhi-Darmojo, 2009) memberikan definisi dari menua sebagai berikut:

‘Menua (menjadi tua=ageing) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita’.

Dari definisi diatas dapat tergambar secara jelas bahwa proses menua pada manusia bukanlah proses yang reversibel. Selain itu, penekanan pada menua bukan hanya pada perubahan yang tampak tetapi juga pada fungsi.

Teori-teori Proses Menua

Terdapat beberapa teori penuaan yang dimuat dalam buku ajar keperawatan lansia. Donlon (2007 dalam Stanley dan Beare, 2007) mengelompokkan teori-teori tersebut kedalam kelompok teori biologis dan teori psikososiologis (lihat bagan 2).

1.   Teori Biologis

Kelompok teori ini menjabarkan proses fisik penuaan dimana terjadi perubahan fungsi dan struktur (sampai tingkat molekuler) hingga kematian. Kelompok teori ini juga mencoba untuk menjelaskan pe-nyebab terjadinya variansi dalam proses penuaan yang dialami oleh setiap individu yang berbeda.

a.   Teori genetika

Menurut teori ini, penuaan adalah suatu proses yang secara tidak sadar diwariskan yang berjalan dari waktu ke waktu untuk mengubah sel atau struktur jaringan. Teori ini terdiri dari teori asam deoksiribonukleat (DNA), teori ketepatan dan kesalahan, mutasi somatic dan teori glikogen. Teori-teori ini menyatakan bahwa proses replikasi pada tingkatan seluler menjadi tidak teratur karena adanya informasi tidak sesuai yang diberikan dari inti sel. Molekul DNA menjadi saling bersilangan (crosslink) dengan unsur yang lain sehingga mengubah informasi genetik dan mengakibatkan kesalahan pada tingkat seluler dan menyebabkan system dan organ tubuh gagal untuk berfungsi.

b.   Teori wear-tear (dipakai-rusak)

Teori ini menyatakan bahwa akumulasi sampah metabolic atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA sehingga mendorong malfungsi molekuler dan akhirnya malfungsi organ tubuh. Radikal bebas adalah contoh dari produk sampah metabolisme yang me-nyebabkan kerusakan ketika akumulasi terjadi. Radikal bebas adalah molekul atau atom dengan suatu electron tidak berpasangan. Ini merupakan jenis yang sangat reaktif yang dihasilkan dari reaksi selama metabolisme.

Radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh system enzim pelindung pada kondisi normal. Beberapa radikal bebas berhasil lolos dari proses perusakan ini dan berakumulasi didalam struktur biologis yang penting, saat itu kerusakan organ terjadi.

c.   Riwayat lingkungan

Teori ini menyatakan bahwa faktor-faktor yang berasal dari lingkungan seperti karsinogen dari industry, cahaya matahari, trauma dan infeksi) membawa perubahan dalam pe-nuaan. Faktor lingkungan diketahui dapat mempercepat proses penuaan tetapi hanya diketahui sebagai faktor sekunder saja.

d.   Teori imunitas

Teori ini menggambarkan suatu kemunduran dalam system imun yang berhubungan dengan penuaan. Ketika orang bertambah tua, pertahanan mereka terhadap organisme asing mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan untuk menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi. Seiring dengan berkurangnya fungsi system imun, terjadilah peningkatan dalam respons autoimun tubuh. Ketika orang mengalami penuaan, mereka mungkin mengalami penyakit autoimun seperti arthritis rheumatoid. Penganjur teori ini sering memusatkan pada peran kelenjar timus, dimana berat dan ukuran kelenjar timus akan menurun sering bertambahnya umur sehingga mempengaruhi kemampuan diferensiasi sel T dalam tubuh dan mengakibatkan menurunnya respons tubuh terhadap benda asing didalam tubuh.

e.   Teori neuroendokrin

Dalam teori sebelumnya dijelaskan bahwa terdapat hubungan antara penuaan dengan perlambatan system metabolisme atau fungsi sel. Sebagai contoh dalam teori ini adalah  sekresi hormon yang diatur oleh system saraf. Salah satu area neurologi yang mengalami gangguan secara universal akibat penuaan adalah waktu reaksi yang diperlukan untuk menerima, memproses dan bereaksi terhadap perintah. Dikenal sebagai perlambatan tingkah laku, respons ini kadang-kadang di interpretasikan sebagai tindakan melawan, ketulian, atau kurangnya pengetahuan.

Teori Biologis

Tingkat Perubahan

Genetika Gen yang diwariskan dari dampak lingkungan
Dipakai dan rusak Kerusakan oleh radikal bebas
Lingkungan Meningkatnya pajanan terhadap hal-hal yang berbahaya
Imunitas Integritas system tubuh untuk melawan kembali
Neuroendokrin Kelebihan atau ku-rangnya produksi hormone

Teori Psikososiologis

Tingkat Proses

Kepribadian

Tugas perkembangan

Disengagement

Introvert lawan ekstrovert

Maturasi sepanjang rentang kehidupan

Antisipasi menarik diri

Aktivitas Membantu mengembangkan usaha
Kontinuitas Pengembangan individualitas
Ketidakseimbangan sistem Kompensasi melalui pengorganisasian diri sendiri

Tabel 3 Teori-teori Penuaan (Donlon, 2007 dalam Stanley dan Beare 2007)

2.   Teori Psikososiologis

Kelompok teori ini menyatakan bahwa penuaan dipengaruhi dan disertai oleh perubahan perilaku maupun aspek lain sesuai konteks psikologi dan sosiologis.

a.   Teori kepribadian

Teori ini menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan psikologis tanpa menggambarkan harapan atau tugas spesifik lansia. Dalam teorinya Jung (1971) menyatakan bahwa terdapat kepribadian introvert dan ekstrovert dan keseimbangan terhadap keduanya sangat penting bagi kesehatan. Dalam konsep interioritas ini Jung mengungkapkan bahwa separuh kehidupan manusia berikutnya digambarkan dengan memiliki tujuannya sendiri, yaitu untuk me-ngembangkan kesadaran diri sendiri melalui aktivitas yang dapat merefleksikan dirinya sendiri. Lansia sering menemukan bahwa hidup telah memberikan satu rangkaian pilihan yang sekali dipilih, akan membawa orang tersebut pada suatu arah yang tidak bisa diubah.

b.   Teori tugas perkembangan

Tugas perkembangan adalah aktivitas dan tantangan yang harus dipenuhi oleh seseorang pada tahap-tahap spesifik dalam hidupnya untuk mencapai penuaan yang sukses. Erickson (1986) menguraikan tugas utama lansia adalah mampu melihat kehidupan seseorang sebagai bagian kehidupan yang dijalani dengan integritas. Pada kondisi tidak adanya pencapaian perasaan bahwa ia telah menikmati kehidupan yang yang baik, maka lansia tersebut beresiko untuk disibukkan dengan rasa penyesalan atau putus asa.

c.   Teori disengagement

Teori pemutusan hubungan, dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1960-an, menggambarkan proses penarikan diri oleh lansia dari peran bermasyarakat dan tanggung jawabnya. Proses penarikan diri ini daoat diprediksi, sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting untuk fungsi yang tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan akan bahagia apabila kontak sosial telah berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh generasi yang lebih muda. Manfaat dari pengurangan kontak sosial adalah agar ia dapat menyediakan waktu untuk merefleksikan pen-capaian hidupnya dan untuk menghadapi harapan yang tidak terpenuhi, sedangkan manfaatnya bagi masyarakat adalah dalam rangka memindahkan kekuasaan generasi tua ke generasi muda. Teori ini memiliki titik kelemahan karena seolah-olah membatasi peran lansia di masyarakat dan pada kenyataannya banyak lansia yang masih berkontribusi secara positif bagi masyarakat dalam usia senjanya.

d.   Teori aktivitas

Teori ini dikatakan sebagai lawan dari teori disengagement yang menyatakan bahwa jalan menuju penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Gagasan pemenuhan kebutuhan seseorang harus seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan oleh orang lain ditunjukkan dalam teori ini. Sebuah penelitian juga menunjukkan pen-tingnya aktivitas mental dan fisik yang berkesinambungan untuk mencegah kehilangan dan pemeliharaan kesehatan sepanjang masa kehidupan manusia.

e.   Teori kontinuitas

Teori ini dikenal juga sebagai teori perkembangan dan mencoba menjelaskan dampak kepribadian pada kebutuhan untuk tetap aktif atau memisahkan diri agar mencapai kebahagiaan dan terpenuhinya kebutuhan di usia tua. Teori ini menekankan pada kemampuan koping individu sebelumnya dan kepribadian sebagai dasar untuk memprediksi bagaimana seseorang akan dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan akibat penuaan.

Lansia yang terbiasa memiliki kendali dalam membuat keputusan mereka sendiri tidak akan dengan mudah menyerahkan peran ini hanya karena usia mereka yang telah lanjut. Selain itu, individu yang telah melakukan manipulasi atau abrasi dalam interaksi interpersonal mereka selama masa mudanya tidak akan tiba-tiba mengembangkan suatu pendekatan yang berbeda di dalam masa akhir kehidupannya.

, ,

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: